Teknologi Gasifikasi Sekam

Menurut catatan yang diperoleh oleh Mahin (1986), teknologi gasifikasi sekam sudah digunakan pada sekitar tahun 1910. Disebutkan bahwa pada tahun tersebut sudah ada perusahaan yang mengiklankan gasifikasi sekam untuk menjalankan motor bakar 120 hp. Setidaknya pada kurun pertengahan pertama abad 20 yang lalu terdapat perusahaan yang membuat sistem penggas sekam yang berasal dari Italia dan Inggris. Sebuah artikel yang muncul pada tahun 1911 menyebutkan adanya perangkat gasifikasi sekam dengan merek Balestra yang berasal dari Italia. Tipe reaktor yang digunakan pada saat tersebut adalah alir atas.

Italia termasuk negara yang memiliki sejarah pengembangan penggas sekam yang cukup lama dikarenakan negara tersebut adalah salah satu negara Eropa yang secara tradisional membudidayakan pertanaman padi yang cukup luas. Mahin (1982) menyebutkan sistem penggas sekam telah berkembang secara luas pada kurun antara tahun 1915 – 1945. Pada waktu Perang Dunia II, di kota Vercelli, digunakan gas sekam sebagai campuran gas batubara untuk pasokan gas kota. Selain itu terdapat beberapa penggilingan padi yang menjual gas sekam dalam tabung bertekanan 200 atm untuk keperluan bahan bakar truk (Beagle, 1978). Di sekitar kurun waktu Perang Dunia II, terdapat 57 penggilingan padi di Italia yang menggunakan sistem penggas sekam (Beagle, 1978). Salah satu di antara perangkat penggas sekam tersebut dipasang di Montecillo, Italia pada tahun 1940 dan masih digunakan sampai tahun 1975 (Beagle, 1978; Mahin, 1986).

Baca tulisan ini lebih lanjut

Gasifikasi Skala Kecil

Sebagai ukuran kualitatif, istilah skala kecil memiliki makna yang yang longgar. Untuk pembangkitan daya, ukuran yang masih dianggap kecil adalah keluaran daya di bawah 20 MW listrik (Purvis dan Craig 2000). Sedangkan Anonim (2000) mendefinisikan ukuran kecil untuk biopower adalah dengan batas 5 MW. Demikian juga Anonim (2009) membatasi ukuran kecil dengan batas 5 MW bahan bakar. Di lain pihak, Brandin et al (2011) mendefiniskan skala kecil adalah untuk ukuran sampai 10 MW. Namun untuk gasifikasi biomas, nampaknya ukuran tersebut terlalu besar, sehingga beberapa pustaka memasukkan reaktor dengan daya dalam satuan MW sebagai ukuran besar. Misalnya Anonim (2006) menyebutkan reaktor gasifikasi di Varnamo, Swedia, dengan ukuran 6 MWe / 9 MWh sebagai gasifikasi ukuran besar. Kebanyakan pustaka menggunakan istilah skala kecil adalah untuk ukuran keluaran daya dalam satuan kW. Misalnya Chawdhury dan Mahkamov (2011) menggunakan istilah tersebut untuk sistem gasifikasi dengan ukuran 6 – 7 kW. Sementara itu, Wander et al (2004) menggunakan istilah skala kecil untuk gasifikasi dengan kapasitas umpan 12 kg/jam. Dong et al (2009) memberi batasan 100 kW untuk ukuran kecil sedangkan untuk ukuran di bawah 15 kW dinamakan ukuran mikro. Kaupp dan Goss (1983) menyebutkan ukuran 5 – 100 hp sebagai ukuran kecil dan 200 hp sebagai ukuran besar. Larson (1991) memberi batas ukuran kecil ialah untuk gasifikasi biomas dengan umpan energi sampai 2 GJ per jam atau setara dengan 100 kg biomas kering per jam.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Gasifikasi Biomas

Gasifikasi Biomas

Gasifikasi biomas merupakan proses konversi secara termo-kimia bahan biomas padat menjadi bahan gas. Rajvanshi (1986) mendefinisikan gasifikasi biomas sebagai pembakaran biomas tidak selesai yang menghasilkan gas bakar yang terdiri dari karbon monoxida (CO), Hidrogen (H2)and sedikit metana (CH4). Proses gasifikasi pada dasarnya merupakan proses pirolisa pada suhu sekitar 150 – 900°C, diikuti oleh proses oksidasi gas hasil pirolisa pada suhu 900 – 1400°C, serta proses reduksi pada suhu 600 – 900°C (Abdullah, et al 1998). Baik proses pirolisa maupun reduksi yang berlangsung dalam reaktor gasifikasi terjadi dengan menggunakan panas yang diperoleh dari proses oksidasi. Gasifikasi berlangsung dalam keadaan kekurangan oksigen. Dengan kata lain, gasifikasi biomas boleh dipahami sebagai reaksi oksidasi parsial biomas menghasilkan campuran gas yang masih dapat dioksidasi lebih lanjut (bersifat bahan bakar).

Baca tulisan ini lebih lanjut

Teknologi Gasifikasi

Setidaknya ada 3 tingkatan pengertian istilah gasifikasi. Pada pengertiannya yang paling luas, gasifikasi adalah istilah yang diberikan untuk proses perlakuan terhadap bahan bakar yang memberikan hasil akhir berupa gas yang masih bisa digunakan sebagai bahan bakar (Higman dan Burgt, 2008). Pada pengertian ini tercakup juga proses fermentasi anaerob dari biomas menghasilkan gas metana. Pada pengertian yang lebih sempit, gasifikasi adalah proses pengubahan bahan bakar menjadi bentuk gas dengan cara pemanasan (secara termokimia). Proses ini masih mencakup gasifikasi dan pirolisa. Proses gasifikasi adalah salah satu varian dari proses pirolisa yaitu pemecahan molekul bahan bakar padat menjadi senyawa yang lebih sederhana karena pemanasan. Pada perkembangannya istilah pirolisa lebih dikhususkan untuk pengubahan bahan bakar padat menjadi senyawa yang lebih sederhana tanpa adanya reaksi dengan oksigen, sedang gasifikasi adalah proses pengubahan bahan bakar padat menjadi gas dengan cara oksidasi parsial.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Sekam Sebagai Sumber Energi

Sekam Padi

Sekam adalah nama yang diberikan untuk bagian terluar bulir padi yang sudah terpisah dari isinya. Sekam merupakan hasil samping yang diperoleh dari proses pemberasan. Pemberasan ialah proses mengupas gabah dengan hasil berupa beras pecah kulit dan sekam yang sudah terpisah sendiri-sendiri. Dalam praktek istilah sekam meliputi kulit gabah yang berasal dari pengupasan bulir gabah isi maupun yang berasal dari gabah hampa yang sejak semula tidak ada isinya.

Komponen utama pembentuk sekam adalah selulosa. Pengukuran komposisi kimia sekam oleh Kim dan Eom (2001) memberikan hasil berupa air 5%, lignin 21,6%, holoselulosa 60,8% dan abu 12,6%. Nilai energi sekam sekitar 3000 kcal per kilogramnya. Untuk menghasilkan pembakaran sempurna sekam, tiap kg sekam membutuhkan kira-kira 4.7 kg udara.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Gula Kelapa

Gula Kelapa

Gula kelapa yang dikenal juga dengan nama gula jawa atau gula merah adalah salah satu bahan pemanis untuk pangan yang berasal dari pengolahan nira kelapa. Di Indonesia, gula kelapa kebanyakan diperdagangkan dalam bentuk bongkahan padat dengan bangun geometri yang bervariasi tergantung tempat mencetak yang digunakan pada saat pembuatannya.

Gula kelapa bisa dikonsumsi sebagai bahan pemanis untuk makanan ataupun minuman sebagaimana bahan pemanis yang lain seperti gula pasir, gula aren, gula siwalan, dan sebagainya, namun juga digunakan sebagai bahan baku pada beberapa industri pangan antara lain kecap dan minuman instan. Dibanding dengan beberapa jenis gula yang lain gula kelapa memiliki lebihan maupun kekurangan. Kekurangan gula kelapa antara lain adalah pada mutunya yang terlalu bervariasi disebabkan sifatnya yang merupakan industri rakyat. Selain itu sebagian gula kelapa yang beredar di pasaran mengandung zat pengawet yang berbahaya bagi kesehatan. Namun kekurangan tersebut sebenarnya bukan merupakan sifat bawaan dari gula kelapa melainkan lebih kepada kurang bagusnya cara pemrosesannya. Gula kelapa memiliki aroma yang khas yang bisa dianggap sebagai kekurangan maupun sebagai kelebihan. Aroma tersebut membuat gula kelapa kurang cocok digunakan untuk pemanis pada bahan pangan yang sensitif terhadap aroma tertentu, namun di sisi lain aroma tersebut juga disukai oleh sebagian konsumen. Di antara kelebihan gula kelapa yang terutama salah satunya adalah nilai index glycemicnya yang tergolong rendah yaitu 35, sehingga bisa menjadi pemanis yang cukup aman bagi penderita diabetes. Gula kelapa juga memiliki kandungan nutrisi yang cukup bagus dibanding dengan gula pasir misalnya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Praktikum Mesin Pertanian

ACARA I

PENGENALAN MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Tujuan

Memperkenalkan berbagai macam Mesin dan Peralatan Pertanian

Pengantar

Bahasan mengenai Mesin dan Peralatan Pertanian mencakup seluruh peralatan yang dipergunakan dalam suatu pekerjaan budidaya pertanian.

Pekerjaan pertanian secara berurutan dapat diuraikan sebagai :

  1. Pembukaan dan penyiapan lahan

  2. Pengolahan tanah

  3. Penanaman

  4. Pemeliharaan tanaman

  5. Panen

  6. Pengolahan hasil pertanian

Baca tulisan ini lebih lanjut

MOTOR BAKAR DAN TRAKTOR PERTANIAN

updated 23 Oktober 2008

Naskah Ajar untuk Mata Kuliah Motor Bakar dan Traktor
Semester 1 Th 2001/2002

Oleh:
Ir. Tasliman, MEng.

Jurusan Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Jember
2001

DAFTAR ISI

BAB I. MOTOR BAKAR DALAM

BAB 2. DASAR KERJA MOTOR BAKAR DALAM 6

III. MOTOR BENSIN DAN MOTOR DIESEL 24

BAB IV. SISTEM BAHAN BAKAR 26

BAB V. SISTEM PENDINGINAN DAN PELUMASAN 28

BAB VI. TRAKTOR PERTANIAN 30

BAB VII. SISTEM TRAKSI 31

BAB VIII. SISTEM TRANSMISI DAYA 32

BAB IX. SISTEM PELISTRIKAN 34

BAB X. SISTEM HIDROLIKA DAN KENDALI ALAT 35

BAB XI. ERGONOMIKA TRAKTOR 42

BAB XII. PENGUJIAN TRAKTOR 43

DAFTAR PUSTAKA 44
Baca tulisan ini lebih lanjut

Pengantar MK Mesin Peralatan Pertanian

Tujuan:

Memberi bekal pengetahuan dasar (dasar pengetahuan) tentang mesin dan peralatan yang biasa digunakan dalam pekerjaan pertanian.

Ruang lingkup

Bahasan

Pengertian-pengertian:

Pekerjaan pertanian ialah segala macam kegiatan / pekerjaan yang dilakukan dalam proses produksi pertanian. Dalam hal ini tidak semua kegiatan yang dilakukan dalam suatu usaha tani adalah pekerjaan pertanian.

Baca tulisan ini lebih lanjut

PENGOLAHAN DAN DINAMIKA TANAH

Pendahuluan

Pada bab ini akan dibahas beberapa unsur umum pengolahan tanah dan cara-caranya, termasuk pembahasan singkat mengenai beberapa prinsip dinamika yang diterapkan pada pengolahan tanah. Secara umum belum ada usaha untuk menggambarkan pola atau mekanisme hancurnya tanah.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.