Riset Dasar: Masih Bermanfaat Atau Tidak?

Senin,01 Oktober 2007 09:14

Sudut pandang berbeda antara akademisi dan industri menciptakan gap dalam dunia sains. Berbeda dengan akademisi, industriawan atau enterpreneur cenderung ingin agar riset dasar ditiadakan dan diubah menjadi riset serba instan yang menghasilkan profit. Betulkah riset dasar tidak bermanfaat? Sebuah analisa filosofis berikut mencoba menjawabnya.

Dalam bukunya ”The Marketing of Higher Education,” Donald Kirp mengajukan pertanyaan ‘provokatif’ sebagai berikut: akankah matematika, ilmu-ilmu murni atau sosiologi, menjadi ‘dead languages’ di awal milenium tiga ini? Pasalnya, memelihara komunitas akademisi bukan merupakan perhatian/kepedulian para pelaku pasar.

Para entrepreneur setiap harinya harus berurusan dengan penyetimbangan neraca keuangan dalam pembukuan untuk dapat survive. Mereka hanya akan mendukung riset yang dirancang untuk langsung memperkuat organisasi mereka. Ketika akuntabilitas bergaya ‘show-me-the-money’ menjadi ‘mantera’ bukan saja bagi para pelaku pasar, tetapi juga para politisi yang mengawasi anggaran perguruan tinggi publik, lalu siapa yang akan menanggung biaya riset yang dilaksanakan oleh para skolar, tanpa harapan akan adanya Return on Investment yang cepat?

Kirp selanjutnya mengajukan jalan keluar, dengan mengangkat pertanyaan lain, yang juga provokatif: dapatkah masyarakat luas diyakinkan bahwa perguruan tinggi mewakili sesuatu, yang tak terelakkan arti pentingnya, sebagai sebuah kebaikan bersama? Lebih spesifiknya: dapatkah pendidikan tinggi berkontribusi pada pengembangan warga negara yang knowledgeable dan bertanggung jawab, mendorong kohesi sosial, mempromosikan dan menyebarluaskan pengetahuan, serta meningkatkan mobilitas sosial dan menstimulasi ekonomi? Dapatkah argumen-argumen diajukan oleh para skolar dan pimpinan perguruan tinggi dengan cara yang begitu meyakinkan, bahwa perguruan tinggi menawarkan sesuatu yang begitu tinggi nilainya, sehingga dipandang layak menerima subsidi?

Pola Riset Dasar

Sains dasar lazimnya dikaitkan riset fundamental, yaitu penyelidikan ilmiah yang dilakukan untuk menyingkap sebab-sebab fundamental yang menghasilkan fenomena alam. Sejak lama para ilmuwan membayangkan alam semesta sebagai sebuah ‘mesin raksasa’ yang tersusun atas unsur-unsur elementer yang berinteraksi secara mekanistik. Upaya untuk memahami alam semesta, oleh karenanya, dilakukan dengan mencari dan mempelajari unsur-unsur elementer ini, dan kaidah-kaidah yang mengaturnya. Ini mendorong ‘perburuan’ terhadap partikel elementer yang menjadi area riset utama dalam fisika partikel atau fisika energi tinggi.

Suatu bagian dari piramida merupakan dasar dari bagian di atasnya. Penyusunan ini dilakukan dengan berdasarkan kaidah: ilmu A lebih mendasar dari ilmu B, jika hukum-hukum yang berlaku di A dapat menerangkan berbagai gejala dan keteraturan di wilayah B. Atas dasar ini, Matematika ditempatkan di alas piramida tersebut. Di atas matematika diletakkan Fisika, Kimia, dan Biologi, dan disusul oleh Psikologi, dan Sosiologi.

Penguasaan terhadap hukum-hukum universal matematika, fisika, tidak begitu saja membuka jalan untuk menerangkan fenomena mental, fenomena kesadaran, fenomena kultural, ataupun fenomena sosial-politik. Pemahaman tentang fenomena kuantum, persamaan Schrodinger tidak begitu saja bisa menjelaskan mengapa seorang fisikawan berpikir keras untuk mengamati fenomena kuantum tersebut. Jadi, pada wilayah dengan kompleksitas tinggi seperti fenomena mental dan sosial, dibutuhkan pendekatan-pendekatan yang khusus dan khas untuk mempelajarinya.

Meskipun saintis reduksionis berhasil ‘membongkar’ alam ke dalam unsur-unsur fundamental, dan menyarankan sebuah piramida ilmu-ilmu, mereka mengalami kesulitan dalam membangun-ulang alam melalui unsur-unsur fundamental tersebut. Pertanyaan tentang bagaimana alam semesta mencapai wujud seperti yang kini kita saksikan masih merupakan misteri yang membuat sibuk para ilmuwan. Kutipan berikut menggambarkan situasi ini:

Science is built up of facts, as a house is built up of stones, but an accumulation of facts is no more science than a heap of stones is a house.
(Henri Poincaré; Science and Hypothesis)

Kritik terhadap pandangan reduksionistik atas piramida ilmu-ilmu juga muncul dalan studi tentang kesadaran. Dalam sains, kesadaran diterima sebagai pokok bahasan saintifik dengan mengambil pendekatan-pendekatan dari teknologi medis untuk menganalisis otak, insights dari fisika, kimia, biologi, neuroscience, psikologi, sosiologi dan filosofi. Sejak awal peradaban manusia, para filosof, seniman, fisikawan telah berupaya menyelami dan menyingkap misteri kesadaran. Di sini berjajar nama-nama besar mulai dari Plato, Rene Decartes, William James, George Santayana, Roger Penrose dan banyak lagi saintis terkenal lain.

Konteks dan Relevansi dari Riset Dasar

Science (dari istilah Latin scientia), dalam The Hutchinson Dictionary of Science didefinisikan sebagai:

“Any systematic field of study or body of knowledge that aims, through experiment, observation, and deduction, to produce reliable explanation of phenomena, with reference to the material and physical world.”

Dalam definisi ini, frasa ‘reference to mateial and physical world’ merefleksikan prinsip empirisme dalam science yang membedakannya dari Natural Philosophy di zaman Yunani Kuno. Melalui eksperimen, fenomena fisik di-‘reproduksi’ di laboratorim, dan melalui pengukuran, hubungan-hubungan sebab-akibat (prinsip kausalitas) diselidiki secara empiris. Metode penyelidikan demikian dikenal dengan nama logico-empirisme.

Metoda saintifik dalam sains merupakan wujud keyakinan bahwa eksperimentasi dan observasi, jika dipahami dan digunakan secara tepat, dapat membebaskan sains dari pengaruh kecenderungan-kecenderungan saintis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Makin meningkatnya peranan pengukuran dan eksperimentasi dalam riset saintifik mendorong keterlibatan dan penetrasi matematika ke dalam metode saintifik.

Definisi science di atas memberikan penekanan pada metodologi, tetapi tidak mempersoalkan motivasi atau penentuan pilihan area penelitian. Negara-negara yang tergabung dalam OECD membuat konvensi tentang kriteria untuk membedakan jenis-jenis sains berdasarkan orientasi tersebut. Konvensi ini dilembagakan dalam “Frasceti Manual,” yang digunakan sebagai acuan dalam menyusun statistik IPTEK untuk membuat keterbandingan di antara negara-negara anggota OECD.

Pembedaan ini didasarkan atas apakah terdapat obyektif praktis yang memandu kegiatan penelitian, ataukah tidak. Atas dasar pembedaan ini dihasilkan jenis sains basik dan sains terapan . Dalam pembedaan ini, diasumsikan bahwa terdapat hubungan yang linier antara sains basik dan sains terapan (misalnya, fisika merupakan sains basik dan engineering merupakan sains terapan).

Riset tanpa pertimbangan penggunaan dapat dibagi ke dalam: riset dasar murni (pure basic research) dan riset klasifikatori (classificatory research), sementara applications-oriented research dibagi ke dalam use-inspired basic research, yang mencakup strategic research, dan riset terapan murni (pure applied research).

Kalau ditelaah lebih jauh, terlihat bahwa klasifikasi jenis-jenis sains oleh OECD ini memasukkan konteks sosial dari kegiatan riset. Pembedaan jenis-jenis sains tersebut dilakukan dengan memperhatikan relevansi dari kegiatan riset di dalam konteks sosial itu. Riset fundamental relevan dengan konteks sosial yang terdiri atas komunitas-komunitas saintifik, riset strategis diarahkan pada kelas-kelas pengguna yang lebih luas; sedangkan directed research diarahkan pada organisasi pemberi sponsor riset. Oleh karena ini, tampaknya relevance dapat menjadi kriteria fundamental yang untuk mengukur kinerja baik riset dasar maupun riset terapan, yang dibangun dalam konteks-konteks sosial yang berbeda.

Relevansi dari kegiatan riset, baik riset dasar murni maupun riset terapan murni, dapat dibangun dan ditingkatkan dengan mengidentifikasikan konteks sosial dari kegiatan riset, dan menentukan indikator outcome dari kegiatan riset tersebut. Konteks sosial ini dapat mencakup kelompok-kelompok sosial yang terpaut langsung atau tidak langsung dengan program riset (seperti masyarakat petani, pelaku pasar, tenaga kerja, sponsor, komunitas ilmiah). Sedangkan indikator outcome dapat ditentukan dengan mengidentifikasikan maksud, tujuan-tujuan, nilai-nilai yang memandu pelaksanaan riset, mencakup kondisi-kondisi yang dipandang bermasalah.

Sebagai rangkuman, persoalan relevansi berkenaan dengan bagaimana riset menjadi sarana pengembangan bagi kelompok-kelompok sosial tertentu, dengan tujuan, kepentingan dan nilai tertentu. Relevansi kegiatan riset, meskipun itu riset basik, dapat ditingkatkan dengan mengidentifikasikan values yang diharapkan akan muncul sebagai outcome dari pelaksanaan kegiatan riset tersebut. Perencanaan riset harus memaparkan pilihan-pilihan yang diambil di awal, keterbatasan-keterbatasan yang diakibatkan oleh pilihan-pilihan ini, termasuk area ketakpastian dan risikonya.

Integrasi Riset dan Pengajaran

Kehidupan para akademisi itu ibarat ahli akrobat, yang melakukan juggling di antara beban pengajaran dan beban penelitian. Dalam beberapa tahun belakangan, proses pembelajaran —aspek esensial dari penelitian dan pengajaran, telah ditinjau kembali secara seksama. Para pakar pendidikan seperti Ernest Boyer, dan banyak lagi yang lainnya, memfokuskan perhatian merekapada interaksi, interpenetrasi, dan konvergensi dari proses pengajaran dan penelitian.

Bagi Boyer, yang dikenal melalui publikasinya ”Scholarship Reconsidered” (1990), kegiatan-kegiatan discovery, application, integration, dan teaching, semuanya merupakan “scholarships;” empat bentuk inquiry yang saling bergantung dan beririsan, yang berfokus pada learning. Boyer memperluas konsepsi scholarship dan mengajak kita untuk memandang universitas sebagai sebuah ’community of inquiry.’ Dalam komunitas ini, para skolar berpartisipasi bukan sebagai individualis, melainkan sebagai kolega yang terdiri atas mahasiswa dan para dosen, yang semuanya terlibat dalam kegiatan riset dan pengajaran: pencarian pengetahuan.

Bertitiktolak pada penggalian sejarah perguruan-perguruan tinggi di Amerika Serikat, Boyer mendapati tiga fase yang beririsan:

1. fase kolonial, yang didedikasikan pada pengembangan intelektual dan moral mahasiswa, dan memberi penekanan utama pada pengajaran;
2. fase ekspansi kebangsaan, yang menambahkan layanan sebagai misi inti universitas dan mencakup tujuan menghasilkan warga negara yang terdidik untuk melayani masyarakat luas; dan
3. fase modern, yang menambahkan pengembangan pengetahuan melalui penelitian.

Menurut Boyer, di era pasca Perang Dunia II terjadi rekomposisi dari ketiga komponen kegiatan akademik ini (yaitu pengajaran, pelayanan, dan penelitian). Perubahan ini dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjawab tantangan:

1. student body yang sangat beragam/heterogen yang menginginkan excellence in teaching;
2. staf yang heterogen dalam minat, orientasi, kompetensi, yang memerlukan kriteria penilaian prestasi yang berspektrum lebar;
3. dinamika sosial-politik dunia yang menghadirkan isu-isu sosial, etika, dan lingkungan.

Boyer mengusulkan bahwa kita membuang paradigma lama yang mengandung dikotomi di antara penelitian vs pengajaran, dan mengganti dengan paradigma baru, di mana para staf perguruan tinggi dan mahasiswa terlibat dalam scholarship of discovery, integration, application, dan teaching sebagai sebuah community of inquiry.

Scholarship of Discovery

Tujuan utama riset discovery adalah penyingkapan fenomena sehingga menjadi terpahami oleh manusia. Scholarship of discovery berkontribusi bukan hanya pada stock of human knowledge, tetapi juga pada iklim intelektual universitas. Riset, dalam pandangan tradisional, merupakan upaya investigasi intelektual secara tekun, sistematik untuk memvalidasi dan menyempurnakan pengetahuan yang ada, serta menghasilkan pengetahuan baru. Pokok bahasan riset discovery dalam pandangan tradisional dibatasi pada dunia natural-fisis. Namun riset discovery dalam konsepsi Boyer mencakup juga Man-Made World, seperti agriculture research, industrial research, defense research, policy research, dan lain-lain.

Scholarship of Integration

Riset integrasi mensintesis pengetahuan dari fakta-fakta atau disiplin-disiplin yang terisolasi ke dalam bentuk makna atau perspektif yang baru, dan menciptakan pola-pola intelektual dengan memperhatikan hubungan-hubungan melintasi batas-batas disiplin. Riset demikian dapat mencakup partisipasi beberapa disiplin dalam upaya intelektual bersama untuk menciptakan pengetahuan atau menggabungkan pengetahuan dalam aplikasi yang menawarkan model-model konseptual yang baru.

Scholarship of integration ini melibatkan pelaksanaan riset pada batas-batas di mana bidang-bidang konvergen, dan memperlihatkan area di mana bidang-bidang itu saling tumpang-tindih. Pekerjaan demikian dipandang sangat penting ketika kategori-kategori disipliner tradisional terbukti membelenggu dan membatasi. Pertanyaan-pertanyaan demikian membutuhkan kekuatan analisis kritis dan penafsiran yang dapat menghantarkan dari informasi menuju pengetahuan, dan bahkan menuju kebijaksanaan.

Scholarship of Application

Ketiga tipe kecendekiaan terdahulu mencerminkan tradisi investigatif dari kehidupan akademik. Tipe keempat berkenaan dengan pertanyaan, “Bagaimana pengetahuan dapat diterapkan pada masalah-masalah yang hadir dalam kehidupan masyarakat? Bagaimana ia dapat membantu individu-individu maupun lembaga-lembaga sosial?” Dan lebih jauh, “Dapatkah masalah-masalah sosial itu sendiri menjadi basis bagi upaya mendefinisikan agenda untuk scholarly research?” Scholarship of application ini dekat dengan apa yang lazim dikenal dengan “service”, yang menghubungkan antara pengetahuan yang diraih dengan masyarakat luas. Bagi Boyer, aplikasi tidak selalu mengikuti discovery—bahkan upaya aplikasi dapat, dan seharusnya, menginisiasi new discovery.

Scholarship of Teaching

Scholarship jenis ini bertugas memfasilitasi alih pengetahuan dari pakar ke pemula (novice), menjembatani pemahaman para dosen dan pembelajaran (learning) para siswa/i. Scholarly teachers musti mampu beradaptasi dengan berbagai learning styles, dan memahami bagaimana pengetahuan diraih serta dikonstruksi secara bersama . Boyer juga menekankan bahwa teaching, bukan saja mentransmisikan pengetahuan, tetapi sekaligus memperluas pengetahuan: good teachers are also good learners.

Boyer menyarankan bahwa para rektor dan administrator akademik, organisasi profesional, dan badan akreditasi regional dapat memainkan peranan signifikan dalam meredefinisikan scholarship. Visi yang baru tentang scholarship ini diharapkan membawa pembaharuan bagi para akademisi dan juga bagi seluruh masyarakat.

Creating Values melalui Jejaring ABG

Dalam dekade terakhir, kebijakan pendidikan tinggi di berbagai negara memberi penekanan pada hubungan ‘triple helix’ di antara academicians, businessmen/women, dan government agencies (ABG). Gagasan dasar yang melatari pengembangan kerangka kerja ABG adalah bahwa agar pengetahuan dapat menghasilkan nilai (values), proses pencapaian pengetahuan tidak boleh terisolasi dari lingkungannya. Values merupakan hasil dari interaksi sosial. Konsep ABG ini berkaitan erat dengan konsep sistem inovasi.

Sebuah sistem inovasi melampaui batas-batas dari lembaga-lembaga pendidikan/riset yang formal, dan menjangkau berbagai elemen-elemen dari lingkungan usaha, organisasi-organisasi pendidikan dan pelatihan, sektor-sektor kebijakan publik, dan kondisi sosio-kultural.

Elemen-elemen kunci dalam sebuah sistem inovasi adalah institusi-institusi dan proses institution building, yang mencakup konteks regulasi, kaidah-kaidah interaksi, tradisi dan budaya, dinamika sosial, lintasan sejarah, keberagaman (diversitas) pelaku-pelaku.

Kinerja sebuah sistem inovasi dilihat dalam ukuran inovasi atau penciptaan nilai-nilai tambah (baik nilai keilmuan, nilai ekonomik, maupun nilai sosial/kultural yang lebih luas) bagi komunitas-komunitas yang menjadi unsur-unsur penyusun sistem inovasi tersebut, bukan semata-mata dalam ukuran jumlah input ataupun output. Faktor input dan investasi penting, tetapi kinerja sistem inovasi juga sangat dipengaruhi oleh pola, karakter dan intensitas interaksi di antara elemen-elemen sistem. Penciptaan pengetahuan adalah penting, tetapi difusi dan penggunaan pengetahuan ini di seluruh masyarakat, mencakup business organizations dan government bodies, juga tidak kalah penting.

Jadi, dalam konsep ABG, inovasi merupakan hasil dari bekerjanya suatu jejaring—jejaring ABG. Tingkat inovasi yang dihasilkan semakin bergantung pada kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis pengetahuan (art, science, engineering, technology, business and management, social sciences and humaniora) yang dihasilkan di mana saja/di berbagai tempat (bukan sebatas di perguruan-perguruan tinggi ataupun lembaga-lembaga riset formal), dan mengkombinasikan berbagai pengetahuan ini dengan stok kapital pengetahuan yang telah tersedia.

Untuk ini, kapasitas absorptif, kapasitas alih pengetahuan, dan kemampuan untuk ‘to learn by interaction’ menjadi faktor-faktor krusial bagi keberhasilan inovasi dalam suatu jejaring ABG. Pengetahuan baru dan berguna (baik secara sosial maupun komersial) merupakan hasil interaksi dan proses pembelajaran di antara berbagai aktor/elemen di dalam sistem inovasi; penghasil (producer), pengguna (user), pensuplai (supplier), otoritas publik, lembaga ilmiah, kesemuanya membangun sebuah ‘daya distribusi pengetahuan,’ selain ‘daya cipta pengetahuan.’

Dapatkah pendidikan tinggi berkontribusi pada pengembangan warga negara yang knowledgeable dan bertanggung jawab, mendorong kohesi sosial, mempromosikan dan menyebarluaskan pengetahuan, serta meningkatkan mobilitas sosial dan menstimulasi ekonomi? Dari pemaparan di bagian-bagian terdahulu dapat ditarik kesimpulan bahwa jawabannya: positif.

Jadi, kalau kita siap membaharui cara pandang kita tentang keskolaran, tentang makna riset, tentang peran perguruan tinggi dan para skolarnya, maka values bersama akan bisa kita ciptakan dan tantangan yang diajukan Donald Kirp dapat kita jawab secara bersama-sama. Dan dengan begitu, kita dapat membangun argumen yang cukup meyakinkan dan fair, bahwa perguruan tinggi dan para skolar dan mahasiswa layak untuk menerima subsidi, maupun berbagai bentuk sponsor-sponsor lain dari masyarakat luas.

Kepustakaan

1. E. L. Boyer, Scholarship Reconsidered: Priorities of the Professoriate, a report for the Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching, 1990.
2. D. L. Kirp, Shakespeare, Einstein, and The Bottom Line: The Marketing of Higher Education, Harvard Uniersity Press, Cambridge, 2003.

(NETSAINS.COM/ humasristek)

Sumber: Website KMNRT

Riset Dasar: Masih Bermanfaat Atau Tidak?

Perihal Pak Tas
manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: